BAB I
A.
Latar
Belakang
Permasalahan yang terjadi di Sekolah adalah belum optimalnya hasil
belajar siswa yang dicapai oleh siswa. Hasil belajar merupakan salah satu
tujuan dari proses pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran
dapat tercapai maka diperlukan usaha untuk memaksimalkan semua kompetensi yang dimiliki guru maupun
peserta didik. Selain itu tentu saja kita harus memahami faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan belajar tersebut. Hasil belajar dipengaruhi oleh
faktor dari dalam (internal) dan
faktor dari luar (eksternal). Menurut
Thursan Hakim ( 2000: 11) “Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan belajar tersebut dapat dibagi dua bagian besar yaitu faktor
internal dan faktor eksternal”. Faktor internal adalah Faktor biologis
(jasmaniah) dan psikologis yang meliputi kondisi fisik, kemauan, kecerdasan, motivasi
dan kemampuan kognitif. sedangkan faktor dari luar misalnya lingkungan dan faktor
lainnya ( misal guru, model pembelajaran, kurikulum).
Sedangkan menurut Bloom
(dalam Sri
Esti Wuryani Djiwandono, 2006:217) mengemukakan “Tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu
kemampuan kognitif, motivasi berprestasi dan kualitas pembelajaran”. Kualitas
pembelajaran adalah kualitas kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam proses
belajar mengajar yang tujuanya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Sedangkan kualitas pembelajaran berkaitan dengan dengan cara guru mengajar dan
cara guru mengajar tentu saja menyangkut model pembelajaran yang digunakan.
Model pembelajaran yang baik adalah model pembelajaran
yang dapat mengaktifkan siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan potensi. Agar pembelajaran menjadi bermakna yang perlu
diperhatikan guru salah satunya pemilihan model pembelajaran yang tepat.
Pemilihan model pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran,
materi pelajaran, dan bentuk pengajaran baik individu maupun kelompok. Belajar
merupakan perubahan tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu yang
dilakukan selama berulang selama proses belajar atau dalam situasi tertentu. Tujuan
pembelajaran mempersiapkan peserta didik untuk mampu menyerap dan menyesuaikan
diri dengan informasi baru dengan berfkir, bertanya menggali, mencipta dan
mengembangkan cara-cara tertentu dalam menyelesaikan permasalahan yang
berkaitan dengan kehidupannya khususnya dalam meningkatkan hasil belajarnya.
Guru
dituntut berkomitmen dan berkompetensi
untuk memiliki pemahaman yang mendalam atas materi yang akan disampaikan dan
mampu menyampaikan materi dengan penuh kreativitas serta mampu memilih model
pembelajaran yang sesuai dan tepat sehingga mampu memotivasi siswa untuk
belajar dan pada akhirnya hasil belajar menjadi meningkat. Salah satunya model pembelajaran yang dikembangkan diduga
dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada saat ini.
Pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw mengambil pola cara kerja gergaji (zigzag), yaitu siswa
melakukan kerjasama dengan siswa lain
untuk mencapai tujuan bersama dalam pembelajaran (Rusman, 2011: 217). Pembelajaran kooperatif tipe
Jigsaw merupakan salah satu model
pembelajaran kooperatif yang mendorong
siswa aktif dan saling membantu dalam
menguasai materi pelajaran untuk mencapai hasil belajar yang maksimal.
Model pembelajaran ini dikembangkan
untuk menguraikan
tentang aktivitas berfikir dan menumbuhkan
prilaku-prilaku sosial yang positif meningkatkan rasa
tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran
orang lain yang dikembangkan melalui diskusi dan
kelompok
yang diorientasikan pada tujuan belajar dengan cara penyampaian informasi dari guru ke siswa. Dengan demikian Siswa
tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap
memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Sehingga
siswa akan saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama
secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan supaya dapat
meningkatkan hasil belajarnya.
Model
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memungkinkan siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan
pendapat dan meningkatkan keterampilan
berkomunikasi. Dalam model pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw meskipun guru
tetap mengendalikan aturan, guru tidak lagi menjadi menjadi pusat kegiatan
pembelajaran, tetapi siswa yang menjadi
pusat kegiatan kelas.
Namun kenyataan di lapangan,
berdasarkan pengalaman peneliti saat melaksanakan
kegiatan PPL, serta hasil pra observasi awal pada tanggal 16 april 2013, menunjukkan
bahwa di Sekolah Menengah Atas Negeri
1 Seluas Kabupaten Bengkayang, menunjukan
hasil belajar yang kurang memuaskan. Terbukti pada
rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa masih sangat rendah. Salah satu faktor penyebabnya adalah kualitas
pembelajaran yang dibawakan oleh guru dalam proses belajar mengajar yaitu
menyangkut model pembelajaran. Dalam hal ini model pembelajaran yang akan
diterapkan salah satunya adalah model pembelajaran koperatif tipe jigsaw.
Dipilihnya model pembelajaran koperatif
tipe jigsaw oleh peneliti
dimaksudkan untuk memperbaiki hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas
Kabupaten Bengkayang. Sedangkan tempat penelitiannya adalah Sekolah Menengah
Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang. Alasan dipilihnya sekolah tersebut
sebagai tempat penelitian dikarenakan terdapat permasalahan yang ditemukan
yaitu rendahnya hasil belajar siswa. Dengan diterapkan model
pembelajaran koperatif tipe jigsaw diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar
siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.
Sehubungan dengan latar
belakang tersebut, disini peneliti akan mengangkat judul penelitian tentang, “Pengaruh Model Pembelajaran Cooperatif
Tipe Jigsaw Oleh Guru
Pendidikan Kewarganegaraan terhadap Hasil Belajar
Siswa Di Kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang?”.
Guna mengetahui model Pembelajaran koperatif tipe
jigsaw dengan hasil belajar siswa
B. Masalah Dan Sub Masalah Penelitian
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan permasalahan penelitian,
baik secara umum maupun secara khusus. Adapun masalah umum dari penelitian ini
adalah : “Bagaimanakah Pengaruh Model Pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru Pendidikan Kewarganegaraan terhadap Hasil Belajar Siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas
Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang?”.
Berdasarkan
masalah umum tersebut peneliti merumuskan menjadi beberapa sub masalah sebagai
berikut:
1.
Bagaimanakah
model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan
di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang?
2.
Bagaimanakah
hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten
Bengkayang?
3.
Apakah terdapat
pengaruh model pembelajaran cooperative tipe jigsaw oleh guru pendidikan
kewarganegaraan dengan hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas
Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang?
C.
Tujuan
Penelitian
Tujuan penelitian
ini dapat penulis kelompokkan menjadi dua, yaitu tujuan umum dan khusus. Adapun
tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendapatkan
informasi yang lengkap dan realitas mengenai pengaruh Model Pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru Pendidikan Kewarganegaraan Dalam
meningkatkan Hasil Belajar
Siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang. Sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
dan mendapatkan informasi yang relevan dan valid mengenai :
1.
Model
pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan di
kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.
2.
Hasil belajar
siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.
3.
Model
pembelajaran cooperative tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan
terhadap hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas
Kabupaten Bengkayang.
D.
Manfaat
Penelitian
Dengan penelitian ini ada beberapa
manfaat yang dapat diambil dan diharapkan. Adapun manfaat yang di maksud
manfaat teoritis dan praktis adalah sebagai berikut :
1. Manfaat
Teoritis
Sebagai wadah pengembangan ilmu pengetahuan
terutama pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan khususnya dalam proses
pembelajaran yang menyangkut model pembelajaran koperatif tipe jigsaw dengan hasil belajar siswa.
2. Manfaat
Praktis
a.
Bagi Guru
Dengan dilaksanakan
penelitian ini guru dapat mengetahui variasi strategi mengajar yang dapat
digunakan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan hasil belajar.
b.
Bagi siswa
Dapat membantu siswa
yang mengalamai kesulitan belajar untuk bertukar pengetahuan dan bersosialisai
dengan siswa lain dengan situasi belajar yang menyenangkan sehingga dapat berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa
c.
Bagi peneliti
Mendapat pengalaman penggunaan
pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan model pembelajaran koperatif
tipe jigsaw yang kelak dapat diterapkan pada saat mengajar
d. Bagi
Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
dijadikan Sebagai kontribusi yang positif dalam menyiapkan anak didik yang
berkualitas serta menyiapkan mereka menjadi out-put yang mampu bersaing dengan
siswa-siswi di sekolah lain dalam hal berkemampuan intelektualnya dan memberikan
sumbangan pemikiran serta saran untuk kemajuan peningkatan pendidikan dalam
proses belajar mengajar di kelas.
E.
Hipotesis
Penelitian
Menurut Sumardi Suryabrata (dalam Purwanto 2007)
menyatakan bahwa: “Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah
penelitian yang masih perlu diuji secara empiris”. Sedangkan menurut Hamid
Darmadi (2011:43) menyatakan bahwa “Hipotesis adalah Penjelasan yang bersifat
sementara untuk tingkah laku, kejadian atau peristiwa yang sudah atau akan
terjadi”. Oleh Fred N. Kerlinger (dalam Hamid Darmadi, 2011:43) menyebutkan
secara singkat “hipotesis didefinisikan sebagai pernyataan yang merupakan
terkaan mengenai hubungan antara dua variabel atau lebih”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan
Hipotesis adalah dugaan sementara terhadap masalah yang diteliti, dan
kebenarannya masih diragukan serta perlu pembuktian lebih lanjut agar
penelitian dapat kita simpulkan dengan valid.
Hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.
Hipotesis
Alternatif (Ha)
Terdapat
pengaruh model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan terhadap
hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten
Bengkayang.
2.
Hipotesis
Nol (Ho)
Tidak
terdapat pengaruh model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan
kewarganegaraan terhadap hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas
Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.
F.
Ruang
Lingkup Penelitian
Untuk
memperjelas batasan masalah dalam penelitian ini dikemukakan ruang lingkup
penelitian yang meliputi variabel yang diteliti serta definisi operasional
sebagai berikut :
1.
Variabel Penelitian
Sugiono
(2012:38) variabel pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik
kesimpulannya. Kerlinger dalam Sugiyono (2012:38) variabel adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan
dipelajari.
Selanjutnya
Suharsimi Arikunto (2002:96) bahwa “variabel penelitian adalah objek penelitian
atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”.
Berdasarkan definisi menurut
para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian adalah suatu
atribut atau atau sifat, nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai
variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya.
a. Varibel
bebas
Menurut Sugiyono (2012:39)
variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
perubahannya atau timbulnya variabel dependent (terikat). Dalam penelitian ini
yang menjadi varibel bebas adalah “pengaruh model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh
guru pendidikan kewarganegaraan”. Dengan aspek-aspek sebagai berikut:
menyatakan lima unsur
model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, pembelajaran gotong royong yaitu :
1)
Saling ketergantungan positif.
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya.
Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian
rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar
yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
2)
Tanggung jawab perseorangan.
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran
kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang
terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran kooperatif membuat
persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota
kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya
dalam kelompok bisa dilaksanakan.
3)
Tatap muka.
Dalam pembelajaran kooperatif setiap kelompok harus diberikan kesempatan
untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para
pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari
sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi
kekurangan
4)
Komunikasi antar anggota.
Unsur ini
menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan
berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada
kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk
mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga
merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat
bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan
perkembangan mental dan emosional para siswa.
5)
Evaluasi proses kelompok.
Pengajar
perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja
kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan
lebih efektif. Roger dan David Jhonson dalam Rusman, (2012 : 212)
b. Variabel
terikat
Menurut Sugiyono (2012:39)
variabel terikat merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi akibat,
karena adanya variabel bebas. Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat
disimpulkan bahwa variabel terikat adalah variabel yang muncul karena adanya
variabel bebas yang mempengaruhinya. Adapun variabel terikat dalam penelitian
ini adalah hasil belajar siswa. Dengan aspeknya sebagai berikut:
Menurut Benyamin Bloom dalam (Nana
Sudjana, 2005: 22) klasifikasi
Aspek hasil belajar yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah
yakni, “ ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris”. Adapun uraian
dari ketiga ranah tesebut yang berkenaan dengan hasil belajar ialah :
1)
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil
belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau
ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek
pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk
kognitif tingkat tinggi.
2)
Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang
terdiri dari lima aspek, yakni
penerimaan, jawaban atau reaksi,
penilaian, organisasi, dan internalisasi.
3)
Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil
belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris,
yakni (a) gerakan refleks, (b) keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan
perseptual, (d) keharmonisan atau ketetapan, (e) gerakan keterampilan kompleks,
dan (f) gerakan ekspresif dan interpretatif.
Berdasarkan ketiga
ranah tersebut yang menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga
ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru
disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi
bahan pengajaran.
2.
Definisi Operasional
Agar
tidak menimbulkan salah pengertian dalam menafsirkan istilah-istilah yang
digunakan dalam penelitian ini maka peneliti memberi batasan terhadap istilah
yang digunakan:
1. Model
Pembelajaran Koperatif Tipe Jigsaw
Model
Pembelajaran Koperatif
jigsaw mengandung pengertian bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan
bersama. Sedangkan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan salah
satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa
aktif dan saling membantu dalam
menguasai materi pelajaran untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Menurut Isjoni (2011: 54) pembelajaran koperatif jigsaw merupakan salah satu
tipe pembelajaran yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam
menguasai materi pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang maksimal.
Kemudian menurut Lie dalam Rusman (2012:218) menyatakan koperatif model jigsaw merupakan model pembelajaran dengan cara siswa belajar
dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai enam orang secara heterogen
dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab
secara mandiri.
Berdasarkan pengertian
diatas dapat peneliti simpulkan yang dimaksud dengan koperatif jigsaw adalah
model pembelajaran kelompok yang terdiri dari beberapa orang anggota dalam satu
kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu
mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.
Menurut Slavin dalam Isjoni,
(2011:55) jumlah yang paling tepat menurut hasil penelitian Slavin adalah
kelompok belajar yang beranggotakan empat
sampai enam orang lebih sepaham dalam menyelesaikan suatu permasalahan.
Sedangkan menurut Miftahul huda (2011:
118-121) menyatakan model jigsaw siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil
yang terdiri dari empat sampai enam orang anggota perkelompok kemudian setiap
kelompok diberi materi yang membahas salah satu topik materi pelajaran yang
diberikan pada saat itu. Dari materi yang diberikan pada setiap kelompok,
masing-masing anggota mempelajari bagian materi yang berbeda dari materi tersebut.
Setelah mempelajari materi
tersebut dalam kelompok masing-masing, setiap anggota yang mempelajari
bagian-bagian ini berkumpul dengan anggota dari kelompok lain yang juga
menerima bagian materi yang sama. Perkumpulan siswa yang menerima materi yang sama ini dikenal dengan istilah
kelompok ahli. Dalam kelompok ahli, masing-masing siswa saling berdiskusi dan
mencari cara terbaik bagaimana menjelaskan materi itu kepada teman kelompok
asal. Setelah diskusi selesai, semua siswa
dalam kelompok ahli kembali kekelompok semula, dan masing-masing dari mereka
mulai menjelaskan bagian materi tersebut kepada teman satu kelompoknya.
Kemudian diakhir pembelajaran, peserta didik diberi kuis secara individu yang
mencakup semua materi yang telah dibahas.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memungkin siswa
memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat, meningkatkan
keterampilan berkomunikasi dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa Rusman, (2012:218). Sedangkan menurut Isjoni menyatakan
pembelajaran koperatif tipe jigsaw, meskipun guru tetap mengendalikan aturan
guru tidak lagi menjadi pusat kegiatan, tetapi siswalah yang menjadi pusat
kegiatan kelas.
2. Hasil
Belajar
Hasil belajar sering digunakan sebagai ukuran yang
utama bagi prestasi siswa yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran.
Menurut Nana Sudjana (2009: 22)
mengatakan, “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Sedangkan menurut Zaenal Arifin
(2010: 303) “Hasil belajar yang optimal dapat dilihat dari ketuntasan
belajarnya, terampil dalam mengerjakan tugas, dan memiliki apresiasi yang baik
terhadap pelajaran”.
Dari
pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari
pengalaman belajar yang diperoleh siswa selama proses belajar-mengajar yang dapat dilihat dari ketuntasan
belajarnya. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai
ulangan harian siswa kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri I Seluas Kabupaten
Bengkayang.
Menurut
Uzer usman (2009: 62) menyebutkan, “Ulangan harian adalah tes yang dilakukan
pada akhir satuan bahasan/ pokok bahasan/ satuan pelajaran.
SILAKAN IKUTI TERUS BLOG SAYA AKAN ADA LAGI BAB II-III-IV DAN V....Myskiripsi.blogsopt.com
SILAKAN IKUTI TERUS BLOG SAYA AKAN ADA LAGI BAB II-III-IV DAN V....Myskiripsi.blogsopt.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar