Rabu, 03 Januari 2018

BAB I Pengaruh Model Pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru Pendidikan Kewarganegaraan terhadap Hasil Belajar Siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang

BAB I
PENDAHULUAN
dinamisenakblogspot.com
babiiiskripsi.blogspot.com

A.    Latar Belakang
Permasalahan yang terjadi di Sekolah adalah belum optimalnya hasil belajar siswa yang dicapai oleh siswa. Hasil belajar merupakan salah satu tujuan dari proses pembelajaran.   Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai maka diperlukan usaha untuk memaksimalkan  semua kompetensi yang dimiliki guru maupun peserta didik. Selain itu tentu saja kita harus memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar tersebut. Hasil belajar dipengaruhi oleh faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal). Menurut Thursan Hakim ( 2000: 11) “Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar tersebut dapat dibagi dua bagian besar yaitu faktor internal dan faktor eksternal”. Faktor internal adalah Faktor biologis (jasmaniah) dan psikologis yang meliputi kondisi fisik, kemauan, kecerdasan, motivasi dan kemampuan kognitif. sedangkan faktor dari luar misalnya lingkungan dan faktor lainnya ( misal guru, model pembelajaran, kurikulum).
Sedangkan menurut Bloom (dalam Sri Esti Wuryani Djiwandono, 2006:217) mengemukakan “Tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu kemampuan kognitif, motivasi berprestasi dan kualitas pembelajaran”. Kualitas pembelajaran adalah kualitas kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam proses belajar mengajar yang tujuanya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Sedangkan kualitas pembelajaran berkaitan dengan dengan cara guru mengajar dan cara guru mengajar tentu saja menyangkut model pembelajaran yang digunakan.
Model pembelajaran yang baik adalah model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensi. Agar pembelajaran menjadi bermakna yang perlu diperhatikan guru salah satunya pemilihan model pembelajaran yang tepat. Pemilihan model pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, materi pelajaran, dan bentuk pengajaran baik individu maupun kelompok. Belajar merupakan perubahan tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu yang dilakukan selama berulang selama proses belajar atau dalam situasi tertentu. Tujuan pembelajaran mempersiapkan peserta didik untuk mampu menyerap dan menyesuaikan diri dengan informasi baru dengan berfkir, bertanya menggali, mencipta dan mengembangkan cara-cara tertentu dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupannya khususnya dalam meningkatkan hasil belajarnya.
Guru dituntut  berkomitmen dan berkompetensi untuk memiliki pemahaman yang mendalam atas materi yang akan disampaikan dan mampu menyampaikan materi dengan penuh kreativitas serta mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dan tepat sehingga mampu memotivasi siswa untuk belajar dan pada akhirnya hasil belajar menjadi meningkat. Salah satunya  model pembelajaran yang dikembangkan diduga dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada saat ini.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mengambil pola cara kerja gergaji (zigzag), yaitu siswa melakukan kerjasama dengan siswa  lain untuk mencapai tujuan bersama dalam pembelajaran (Rusman,  2011: 217). Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan salah satu  model pembelajaran kooperatif  yang mendorong siswa aktif dan saling  membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai hasil belajar  yang maksimal.
Model pembelajaran ini dikembangkan untuk menguraikan tentang aktivitas berfikir dan menumbuhkan prilaku-prilaku sosial yang positif meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain yang dikembangkan melalui diskusi dan kelompok yang diorientasikan pada tujuan belajar dengan cara penyampaian informasi dari guru ke siswa. Dengan demikian Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Sehingga siswa akan saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan supaya dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memungkinkan siswa  memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan  meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Dalam  model pembelajaran kooperatif  tipe Jigsaw meskipun guru tetap  mengendalikan aturan,  guru tidak lagi menjadi menjadi pusat kegiatan pembelajaran,  tetapi siswa yang menjadi pusat kegiatan kelas.
Namun kenyataan di lapangan, berdasarkan pengalaman peneliti saat melaksanakan kegiatan PPL, serta hasil pra observasi awal pada tanggal 16  april 2013, menunjukkan bahwa di Sekolah Menengah Atas  Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang, menunjukan hasil belajar yang kurang memuaskan. Terbukti pada rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa masih sangat rendah.  Salah satu faktor penyebabnya adalah kualitas pembelajaran yang dibawakan oleh guru dalam proses belajar mengajar yaitu menyangkut model pembelajaran. Dalam hal ini model pembelajaran yang akan diterapkan salah satunya adalah model pembelajaran  koperatif tipe jigsaw.
Dipilihnya model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh peneliti dimaksudkan untuk memperbaiki hasil belajar siswa di  kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang. Sedangkan tempat penelitiannya adalah Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang. Alasan dipilihnya sekolah tersebut sebagai tempat penelitian dikarenakan terdapat permasalahan yang ditemukan yaitu rendahnya hasil belajar siswa. Dengan  diterapkan model pembelajaran koperatif tipe jigsaw diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.
Sehubungan dengan latar belakang tersebut, disini peneliti akan mengangkat judul penelitian tentang, “Pengaruh Model Pembelajaran Cooperatif Tipe Jigsaw Oleh Guru Pendidikan Kewarganegaraan terhadap  Hasil Belajar Siswa Di Kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas  Kabupaten Bengkayang?”.
Guna mengetahui model Pembelajaran koperatif tipe jigsaw dengan hasil belajar siswa

B.     Masalah Dan Sub Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan permasalahan penelitian, baik secara umum maupun secara khusus. Adapun masalah umum dari penelitian ini adalah : “Bagaimanakah Pengaruh Model Pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru Pendidikan Kewarganegaraan terhadap Hasil Belajar Siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas  Kabupaten Bengkayang?”.
Berdasarkan masalah umum tersebut peneliti merumuskan menjadi beberapa sub masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang?
2.      Bagaimanakah hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang?
3.      Apakah terdapat pengaruh model pembelajaran cooperative tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan dengan hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang?
C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dapat penulis kelompokkan menjadi dua, yaitu tujuan umum dan khusus. Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendapatkan informasi yang lengkap dan realitas mengenai pengaruh Model Pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru Pendidikan Kewarganegaraan Dalam meningkatkan Hasil Belajar Siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas  Kabupaten Bengkayang. Sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendapatkan informasi yang relevan dan valid mengenai :
1.      Model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.
2.      Hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.
3.      Model pembelajaran cooperative tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan terhadap hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.

D.    Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini ada beberapa manfaat yang dapat diambil dan diharapkan. Adapun manfaat yang di maksud manfaat teoritis dan praktis adalah sebagai berikut :

1.    Manfaat Teoritis
Sebagai wadah pengembangan ilmu pengetahuan terutama pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan khususnya dalam proses pembelajaran yang menyangkut model pembelajaran koperatif tipe jigsaw dengan hasil belajar siswa.
2.    Manfaat Praktis
a.         Bagi Guru
Dengan dilaksanakan penelitian ini guru dapat mengetahui variasi strategi mengajar yang dapat digunakan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan hasil belajar.
b.         Bagi siswa
Dapat membantu siswa yang mengalamai kesulitan belajar untuk bertukar pengetahuan dan bersosialisai dengan siswa lain dengan situasi belajar yang menyenangkan sehingga dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa
c.         Bagi peneliti
Mendapat pengalaman penggunaan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan model pembelajaran koperatif tipe jigsaw yang kelak dapat diterapkan pada saat mengajar
d.      Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan Sebagai kontribusi yang positif dalam menyiapkan anak didik yang berkualitas serta menyiapkan mereka menjadi out-put yang mampu bersaing dengan siswa-siswi di sekolah lain dalam hal berkemampuan intelektualnya dan memberikan sumbangan pemikiran serta saran untuk kemajuan peningkatan pendidikan dalam proses belajar mengajar di kelas.

E.     Hipotesis Penelitian
Menurut Sumardi Suryabrata (dalam Purwanto 2007) menyatakan bahwa: “Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang masih perlu diuji secara empiris”. Sedangkan menurut Hamid Darmadi (2011:43) menyatakan bahwa “Hipotesis adalah Penjelasan yang bersifat sementara untuk tingkah laku, kejadian atau peristiwa yang sudah atau akan terjadi”. Oleh Fred N. Kerlinger (dalam Hamid Darmadi, 2011:43) menyebutkan secara singkat “hipotesis didefinisikan sebagai pernyataan yang merupakan terkaan mengenai hubungan antara dua variabel atau lebih”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Hipotesis adalah dugaan sementara terhadap masalah yang diteliti, dan kebenarannya masih diragukan serta perlu pembuktian lebih lanjut agar penelitian dapat kita simpulkan dengan valid.
Hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Hipotesis Alternatif (Ha)
Terdapat pengaruh model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan terhadap hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.

2.      Hipotesis Nol (Ho)
Tidak terdapat pengaruh model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan terhadap hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.

F.     Ruang Lingkup Penelitian
Untuk memperjelas batasan masalah dalam penelitian ini dikemukakan ruang lingkup penelitian yang meliputi variabel yang diteliti serta definisi operasional sebagai berikut :
1.         Variabel Penelitian
Sugiono (2012:38) variabel pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Kerlinger dalam Sugiyono (2012:38) variabel adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari.
Selanjutnya Suharsimi Arikunto (2002:96) bahwa “variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”.
Berdasarkan definisi menurut para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau atau sifat, nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
a.       Varibel bebas
Menurut Sugiyono (2012:39) variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent (terikat). Dalam penelitian ini yang menjadi varibel bebas adalah “pengaruh model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan”. Dengan aspek-aspek sebagai berikut:
menyatakan lima unsur model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, pembelajaran gotong royong yaitu :
1)      Saling ketergantungan positif.
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
2)      Tanggung jawab perseorangan.
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran kooperatif membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.

3)      Tatap muka.
Dalam pembelajaran kooperatif setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan
4)      Komunikasi antar anggota.
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5)      Evaluasi proses kelompok.
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Roger dan David Jhonson dalam Rusman, (2012 : 212)

b.      Variabel terikat
Menurut Sugiyono (2012:39) variabel terikat merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa variabel terikat adalah variabel yang muncul karena adanya variabel bebas yang mempengaruhinya. Adapun variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa. Dengan aspeknya sebagai berikut:
Menurut Benyamin Bloom dalam (Nana Sudjana, 2005: 22) klasifikasi Aspek hasil belajar yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni, “ ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris”. Adapun uraian dari ketiga ranah tesebut yang berkenaan dengan hasil belajar ialah :
1)      Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.
2)      Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni  penerimaan,  jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
3)      Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni (a) gerakan refleks, (b) keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perseptual, (d) keharmonisan atau ketetapan, (e) gerakan keterampilan kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan interpretatif.

                  Berdasarkan ketiga ranah tersebut yang menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.
2.         Definisi Operasional
Agar tidak menimbulkan salah pengertian dalam menafsirkan istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini maka peneliti memberi batasan terhadap istilah yang digunakan:
1.      Model Pembelajaran Koperatif Tipe Jigsaw
Model Pembelajaran Koperatif jigsaw mengandung pengertian bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama.  Sedangkan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan salah satu  tipe  pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling  membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Menurut Isjoni (2011: 54) pembelajaran koperatif jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang maksimal.
Kemudian menurut Lie dalam Rusman (2012:218)  menyatakan koperatif model jigsaw merupakan model pembelajaran dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri.
Berdasarkan pengertian diatas dapat peneliti simpulkan yang dimaksud dengan koperatif jigsaw adalah model pembelajaran kelompok yang terdiri dari beberapa orang anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. 
Menurut Slavin dalam Isjoni, (2011:55) jumlah yang paling tepat menurut hasil penelitian Slavin adalah kelompok belajar yang beranggotakan empat sampai enam orang lebih sepaham dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Sedangkan menurut Miftahul huda  (2011: 118-121) menyatakan model jigsaw siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang anggota perkelompok kemudian setiap kelompok diberi materi yang membahas salah satu topik materi pelajaran yang diberikan pada saat itu. Dari materi yang diberikan pada setiap kelompok, masing-masing anggota mempelajari bagian materi yang berbeda dari materi tersebut.
Setelah mempelajari materi tersebut dalam kelompok masing-masing, setiap anggota yang mempelajari bagian-bagian ini berkumpul dengan anggota dari kelompok lain yang juga menerima bagian materi yang sama. Perkumpulan siswa yang menerima materi yang sama ini dikenal dengan istilah kelompok ahli. Dalam kelompok ahli, masing-masing siswa saling berdiskusi dan mencari cara terbaik bagaimana menjelaskan materi itu kepada teman kelompok asal. Setelah diskusi selesai, semua siswa dalam kelompok ahli kembali kekelompok semula, dan masing-masing dari mereka mulai menjelaskan bagian materi tersebut kepada teman satu kelompoknya. Kemudian diakhir pembelajaran, peserta didik diberi kuis secara individu yang mencakup semua materi yang telah dibahas.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memungkin siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat, meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa Rusman, (2012:218). Sedangkan menurut Isjoni menyatakan pembelajaran koperatif tipe jigsaw, meskipun guru tetap mengendalikan aturan guru tidak lagi menjadi pusat kegiatan, tetapi siswalah yang menjadi pusat kegiatan kelas.
2.      Hasil Belajar
Hasil belajar sering digunakan sebagai ukuran yang utama bagi prestasi siswa yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran. Menurut Nana Sudjana (2009: 22) mengatakan, “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Sedangkan menurut Zaenal Arifin (2010: 303) “Hasil belajar yang optimal dapat dilihat dari ketuntasan belajarnya, terampil dalam mengerjakan tugas, dan memiliki apresiasi yang baik terhadap pelajaran”.
Dari pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari pengalaman belajar yang diperoleh siswa selama proses belajar-mengajar  yang dapat dilihat dari ketuntasan belajarnya. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai ulangan harian siswa kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri I Seluas Kabupaten Bengkayang.
Menurut Uzer usman (2009: 62) menyebutkan, “Ulangan harian adalah tes yang dilakukan pada akhir satuan bahasan/ pokok bahasan/ satuan pelajaran.

SILAKAN IKUTI TERUS BLOG SAYA AKAN ADA LAGI BAB II-III-IV DAN V....Myskiripsi.blogsopt.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar