Rabu, 03 Januari 2018

BAB II Pengaruh Model Pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru Pendidikan Kewarganegaraan terhadap Hasil Belajar Siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang


BAB I Pengaruh Model Pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru Pendidikan Kewarganegaraan terhadap Hasil Belajar Siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang

BAB I
PENDAHULUAN
dinamisenakblogspot.com
babiiiskripsi.blogspot.com

A.    Latar Belakang
Permasalahan yang terjadi di Sekolah adalah belum optimalnya hasil belajar siswa yang dicapai oleh siswa. Hasil belajar merupakan salah satu tujuan dari proses pembelajaran.   Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai maka diperlukan usaha untuk memaksimalkan  semua kompetensi yang dimiliki guru maupun peserta didik. Selain itu tentu saja kita harus memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar tersebut. Hasil belajar dipengaruhi oleh faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal). Menurut Thursan Hakim ( 2000: 11) “Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar tersebut dapat dibagi dua bagian besar yaitu faktor internal dan faktor eksternal”. Faktor internal adalah Faktor biologis (jasmaniah) dan psikologis yang meliputi kondisi fisik, kemauan, kecerdasan, motivasi dan kemampuan kognitif. sedangkan faktor dari luar misalnya lingkungan dan faktor lainnya ( misal guru, model pembelajaran, kurikulum).
Sedangkan menurut Bloom (dalam Sri Esti Wuryani Djiwandono, 2006:217) mengemukakan “Tiga faktor utama yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu kemampuan kognitif, motivasi berprestasi dan kualitas pembelajaran”. Kualitas pembelajaran adalah kualitas kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam proses belajar mengajar yang tujuanya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Sedangkan kualitas pembelajaran berkaitan dengan dengan cara guru mengajar dan cara guru mengajar tentu saja menyangkut model pembelajaran yang digunakan.
Model pembelajaran yang baik adalah model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan potensi. Agar pembelajaran menjadi bermakna yang perlu diperhatikan guru salah satunya pemilihan model pembelajaran yang tepat. Pemilihan model pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, materi pelajaran, dan bentuk pengajaran baik individu maupun kelompok. Belajar merupakan perubahan tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu yang dilakukan selama berulang selama proses belajar atau dalam situasi tertentu. Tujuan pembelajaran mempersiapkan peserta didik untuk mampu menyerap dan menyesuaikan diri dengan informasi baru dengan berfkir, bertanya menggali, mencipta dan mengembangkan cara-cara tertentu dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupannya khususnya dalam meningkatkan hasil belajarnya.
Guru dituntut  berkomitmen dan berkompetensi untuk memiliki pemahaman yang mendalam atas materi yang akan disampaikan dan mampu menyampaikan materi dengan penuh kreativitas serta mampu memilih model pembelajaran yang sesuai dan tepat sehingga mampu memotivasi siswa untuk belajar dan pada akhirnya hasil belajar menjadi meningkat. Salah satunya  model pembelajaran yang dikembangkan diduga dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada saat ini.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mengambil pola cara kerja gergaji (zigzag), yaitu siswa melakukan kerjasama dengan siswa  lain untuk mencapai tujuan bersama dalam pembelajaran (Rusman,  2011: 217). Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan salah satu  model pembelajaran kooperatif  yang mendorong siswa aktif dan saling  membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai hasil belajar  yang maksimal.
Model pembelajaran ini dikembangkan untuk menguraikan tentang aktivitas berfikir dan menumbuhkan prilaku-prilaku sosial yang positif meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain yang dikembangkan melalui diskusi dan kelompok yang diorientasikan pada tujuan belajar dengan cara penyampaian informasi dari guru ke siswa. Dengan demikian Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Sehingga siswa akan saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan supaya dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memungkinkan siswa  memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan  meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Dalam  model pembelajaran kooperatif  tipe Jigsaw meskipun guru tetap  mengendalikan aturan,  guru tidak lagi menjadi menjadi pusat kegiatan pembelajaran,  tetapi siswa yang menjadi pusat kegiatan kelas.
Namun kenyataan di lapangan, berdasarkan pengalaman peneliti saat melaksanakan kegiatan PPL, serta hasil pra observasi awal pada tanggal 16  april 2013, menunjukkan bahwa di Sekolah Menengah Atas  Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang, menunjukan hasil belajar yang kurang memuaskan. Terbukti pada rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa masih sangat rendah.  Salah satu faktor penyebabnya adalah kualitas pembelajaran yang dibawakan oleh guru dalam proses belajar mengajar yaitu menyangkut model pembelajaran. Dalam hal ini model pembelajaran yang akan diterapkan salah satunya adalah model pembelajaran  koperatif tipe jigsaw.
Dipilihnya model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh peneliti dimaksudkan untuk memperbaiki hasil belajar siswa di  kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang. Sedangkan tempat penelitiannya adalah Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang. Alasan dipilihnya sekolah tersebut sebagai tempat penelitian dikarenakan terdapat permasalahan yang ditemukan yaitu rendahnya hasil belajar siswa. Dengan  diterapkan model pembelajaran koperatif tipe jigsaw diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.
Sehubungan dengan latar belakang tersebut, disini peneliti akan mengangkat judul penelitian tentang, “Pengaruh Model Pembelajaran Cooperatif Tipe Jigsaw Oleh Guru Pendidikan Kewarganegaraan terhadap  Hasil Belajar Siswa Di Kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas  Kabupaten Bengkayang?”.
Guna mengetahui model Pembelajaran koperatif tipe jigsaw dengan hasil belajar siswa

B.     Masalah Dan Sub Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan permasalahan penelitian, baik secara umum maupun secara khusus. Adapun masalah umum dari penelitian ini adalah : “Bagaimanakah Pengaruh Model Pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru Pendidikan Kewarganegaraan terhadap Hasil Belajar Siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas  Kabupaten Bengkayang?”.
Berdasarkan masalah umum tersebut peneliti merumuskan menjadi beberapa sub masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang?
2.      Bagaimanakah hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang?
3.      Apakah terdapat pengaruh model pembelajaran cooperative tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan dengan hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang?
C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dapat penulis kelompokkan menjadi dua, yaitu tujuan umum dan khusus. Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendapatkan informasi yang lengkap dan realitas mengenai pengaruh Model Pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru Pendidikan Kewarganegaraan Dalam meningkatkan Hasil Belajar Siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas  Kabupaten Bengkayang. Sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendapatkan informasi yang relevan dan valid mengenai :
1.      Model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.
2.      Hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.
3.      Model pembelajaran cooperative tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan terhadap hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.

D.    Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini ada beberapa manfaat yang dapat diambil dan diharapkan. Adapun manfaat yang di maksud manfaat teoritis dan praktis adalah sebagai berikut :

1.    Manfaat Teoritis
Sebagai wadah pengembangan ilmu pengetahuan terutama pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan khususnya dalam proses pembelajaran yang menyangkut model pembelajaran koperatif tipe jigsaw dengan hasil belajar siswa.
2.    Manfaat Praktis
a.         Bagi Guru
Dengan dilaksanakan penelitian ini guru dapat mengetahui variasi strategi mengajar yang dapat digunakan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan hasil belajar.
b.         Bagi siswa
Dapat membantu siswa yang mengalamai kesulitan belajar untuk bertukar pengetahuan dan bersosialisai dengan siswa lain dengan situasi belajar yang menyenangkan sehingga dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa
c.         Bagi peneliti
Mendapat pengalaman penggunaan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan model pembelajaran koperatif tipe jigsaw yang kelak dapat diterapkan pada saat mengajar
d.      Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan Sebagai kontribusi yang positif dalam menyiapkan anak didik yang berkualitas serta menyiapkan mereka menjadi out-put yang mampu bersaing dengan siswa-siswi di sekolah lain dalam hal berkemampuan intelektualnya dan memberikan sumbangan pemikiran serta saran untuk kemajuan peningkatan pendidikan dalam proses belajar mengajar di kelas.

E.     Hipotesis Penelitian
Menurut Sumardi Suryabrata (dalam Purwanto 2007) menyatakan bahwa: “Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang masih perlu diuji secara empiris”. Sedangkan menurut Hamid Darmadi (2011:43) menyatakan bahwa “Hipotesis adalah Penjelasan yang bersifat sementara untuk tingkah laku, kejadian atau peristiwa yang sudah atau akan terjadi”. Oleh Fred N. Kerlinger (dalam Hamid Darmadi, 2011:43) menyebutkan secara singkat “hipotesis didefinisikan sebagai pernyataan yang merupakan terkaan mengenai hubungan antara dua variabel atau lebih”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Hipotesis adalah dugaan sementara terhadap masalah yang diteliti, dan kebenarannya masih diragukan serta perlu pembuktian lebih lanjut agar penelitian dapat kita simpulkan dengan valid.
Hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Hipotesis Alternatif (Ha)
Terdapat pengaruh model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan terhadap hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.

2.      Hipotesis Nol (Ho)
Tidak terdapat pengaruh model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan terhadap hasil belajar siswa di kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Seluas Kabupaten Bengkayang.

F.     Ruang Lingkup Penelitian
Untuk memperjelas batasan masalah dalam penelitian ini dikemukakan ruang lingkup penelitian yang meliputi variabel yang diteliti serta definisi operasional sebagai berikut :
1.         Variabel Penelitian
Sugiono (2012:38) variabel pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Kerlinger dalam Sugiyono (2012:38) variabel adalah konstruk (constructs) atau sifat yang akan dipelajari.
Selanjutnya Suharsimi Arikunto (2002:96) bahwa “variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”.
Berdasarkan definisi menurut para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau atau sifat, nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
a.       Varibel bebas
Menurut Sugiyono (2012:39) variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent (terikat). Dalam penelitian ini yang menjadi varibel bebas adalah “pengaruh model pembelajaran koperatif tipe jigsaw oleh guru pendidikan kewarganegaraan”. Dengan aspek-aspek sebagai berikut:
menyatakan lima unsur model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, pembelajaran gotong royong yaitu :
1)      Saling ketergantungan positif.
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
2)      Tanggung jawab perseorangan.
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran kooperatif membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.

3)      Tatap muka.
Dalam pembelajaran kooperatif setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan
4)      Komunikasi antar anggota.
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
5)      Evaluasi proses kelompok.
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Roger dan David Jhonson dalam Rusman, (2012 : 212)

b.      Variabel terikat
Menurut Sugiyono (2012:39) variabel terikat merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa variabel terikat adalah variabel yang muncul karena adanya variabel bebas yang mempengaruhinya. Adapun variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa. Dengan aspeknya sebagai berikut:
Menurut Benyamin Bloom dalam (Nana Sudjana, 2005: 22) klasifikasi Aspek hasil belajar yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni, “ ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris”. Adapun uraian dari ketiga ranah tesebut yang berkenaan dengan hasil belajar ialah :
1)      Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.
2)      Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni  penerimaan,  jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
3)      Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni (a) gerakan refleks, (b) keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perseptual, (d) keharmonisan atau ketetapan, (e) gerakan keterampilan kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan interpretatif.

                  Berdasarkan ketiga ranah tersebut yang menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai oleh para guru disekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.
2.         Definisi Operasional
Agar tidak menimbulkan salah pengertian dalam menafsirkan istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini maka peneliti memberi batasan terhadap istilah yang digunakan:
1.      Model Pembelajaran Koperatif Tipe Jigsaw
Model Pembelajaran Koperatif jigsaw mengandung pengertian bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama.  Sedangkan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan salah satu  tipe  pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling  membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Menurut Isjoni (2011: 54) pembelajaran koperatif jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang maksimal.
Kemudian menurut Lie dalam Rusman (2012:218)  menyatakan koperatif model jigsaw merupakan model pembelajaran dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri.
Berdasarkan pengertian diatas dapat peneliti simpulkan yang dimaksud dengan koperatif jigsaw adalah model pembelajaran kelompok yang terdiri dari beberapa orang anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. 
Menurut Slavin dalam Isjoni, (2011:55) jumlah yang paling tepat menurut hasil penelitian Slavin adalah kelompok belajar yang beranggotakan empat sampai enam orang lebih sepaham dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Sedangkan menurut Miftahul huda  (2011: 118-121) menyatakan model jigsaw siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang anggota perkelompok kemudian setiap kelompok diberi materi yang membahas salah satu topik materi pelajaran yang diberikan pada saat itu. Dari materi yang diberikan pada setiap kelompok, masing-masing anggota mempelajari bagian materi yang berbeda dari materi tersebut.
Setelah mempelajari materi tersebut dalam kelompok masing-masing, setiap anggota yang mempelajari bagian-bagian ini berkumpul dengan anggota dari kelompok lain yang juga menerima bagian materi yang sama. Perkumpulan siswa yang menerima materi yang sama ini dikenal dengan istilah kelompok ahli. Dalam kelompok ahli, masing-masing siswa saling berdiskusi dan mencari cara terbaik bagaimana menjelaskan materi itu kepada teman kelompok asal. Setelah diskusi selesai, semua siswa dalam kelompok ahli kembali kekelompok semula, dan masing-masing dari mereka mulai menjelaskan bagian materi tersebut kepada teman satu kelompoknya. Kemudian diakhir pembelajaran, peserta didik diberi kuis secara individu yang mencakup semua materi yang telah dibahas.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memungkin siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat, meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa Rusman, (2012:218). Sedangkan menurut Isjoni menyatakan pembelajaran koperatif tipe jigsaw, meskipun guru tetap mengendalikan aturan guru tidak lagi menjadi pusat kegiatan, tetapi siswalah yang menjadi pusat kegiatan kelas.
2.      Hasil Belajar
Hasil belajar sering digunakan sebagai ukuran yang utama bagi prestasi siswa yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran. Menurut Nana Sudjana (2009: 22) mengatakan, “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. Sedangkan menurut Zaenal Arifin (2010: 303) “Hasil belajar yang optimal dapat dilihat dari ketuntasan belajarnya, terampil dalam mengerjakan tugas, dan memiliki apresiasi yang baik terhadap pelajaran”.
Dari pendapat diatas dapat di simpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari pengalaman belajar yang diperoleh siswa selama proses belajar-mengajar  yang dapat dilihat dari ketuntasan belajarnya. Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai ulangan harian siswa kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri I Seluas Kabupaten Bengkayang.
Menurut Uzer usman (2009: 62) menyebutkan, “Ulangan harian adalah tes yang dilakukan pada akhir satuan bahasan/ pokok bahasan/ satuan pelajaran.

SILAKAN IKUTI TERUS BLOG SAYA AKAN ADA LAGI BAB II-III-IV DAN V....Myskiripsi.blogsopt.com


Minggu, 31 Desember 2017

BAB III METODOLOGI PENELITIAN EKSPERIMEN

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.  Metode dan Bentuk Penelitian
1.    Metode Penelitian
Agar penelitian yang dilakukan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, maka diperlukan aturan dalam bentuk penelitian. Metode pada dasarnya berarti cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Metode penelitian yang biasa digunakan ada 4 yaitu:
a)    Metode Filosofis
b)   Metode Deskriptif
c)    Metode Historis
d)   Metode Eksperimen
Berdasarkan masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini, maka metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Metode eksperimen adalah prosedur penelitian yang dilakukan untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dua variabel atau lebih, dengan mengendalikan pengaruh variabel lain.
Definisi lain mengenai metode eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakukan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang dikendalikan.
Berdasarkan kedua definisi diatas , maka peneliti berpendapat bahwa, metode eksperimen adalah prosedur penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan variabel tertentu terhadap variabel yang lain dalam kondisi yang dikendalikan.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode eksperimen karena peneliti ingin melihat hubungan sebab akibat antar variabel yaitu pengaruh model kooperatif tipe Team Games Tournament terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas VIII Sekolah Menengah Pertama  Negeri 1 Seponti. 
2.    Bentuk Penelitian
Ada empat bentuk penelitian yang dapat digunakan berdasarkan metode eksperimen, yaitu:
a.     Pre-Experimental Design (non design)
b.    True Experimental Design
c.    Factorial Design
d.    Quasi Experimental Design.
Berdasarkan empat bentuk penelitian di atas, bentuk penelitian yang peneliti gunakan adalah True experimental design. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan bentuk atau desain penelitian True Experimental Desaign. Dikatakan true experimental (eksperimen yang sebenarnya/betul-betul) karena dalam hal  ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Dengan demikian validitas internal (kualitas pelaksanaan rancangan penelitian) dapat menjadi tinggi. Ciri utama dari true experimental adalah bahwa, sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random (acak) dari populasi tertentu. Jadi cirinya adalah adanya kelompok kontrol dan sampel yang dipilih secara random.
Dalam penelitian ini, bentuk atau desain Penelitian True eksperimental Desaign yang digunakan adalah bentuk Posttest-Only Control Design. Bentuk penelitian eksperimen ini hanya menggunakan post test atau tes akhir  dalam rencangan penelitiannya ketika mengumpul data pokok. Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara random, kemudian kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok yang laintidak. Kelompok yang diberi perlakuan dinamakan kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberikan perlakuan disebut kelompok kontrol. Pengaruh adanya perlakuan (treatment) adalah (O1-O2).
E
X
O1
K

O2
Keterangan:
E  :    Kelas Eksperimen Perlakuan (Model Pembelajaran kooperatif Tipe                           Team Games Tournament)
K  :    kelas control, yang diajarkan dengan model pembelajaran                                         konvensional
O1      :                                Pengukuran akhir hasi belajar kelompok perlakuan/eksperimen
O2     :                                Pengukuran akhir hasil belajar kelompok kontrol
(Sugiyono, 2009: 72-76).
3.    Sifat Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mengajar langsung pada kelas yang akan di teliti kemudian guru juga dibantu oleh guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas VIII SMP N 1 Seponti, dalam pelaksanaan penelitian ini sangat dibutuhkan teman sejawat untuk membantu peneliti berkolaborasi, agar penelitian dapat dilakukan dengan baik.
Dalam hal ini, peneliti akan bekerjasama dengan guru Ilmu Pendidikan Kewarganegaraan Kelas VIII SMP N 1 Seponti Jaya dalam membuat perencanaan pembelajaran dan mendiskusikan tentang model pembelajaran kooperatif tipe Team Games Tournament (TGT) yang akan digunakan dalam pembelajaran, agar pada saat pembelajaran tidak terjadi misskonsepsi ( Kesalah pahaman tentang konsep) dan pembelajaran yang akan dilaksanakan sesuai dengan hasil yang diharapkan.
B.  Populasi dan Sampel Penelitian  
1.    Populasi Penelitian   
Populasi adalah objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah yang dapat dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian. Maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP N I Seponti yang berjumlah 60 siswa.
Objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah yang dapat dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas VIII SMP N I Seponti yang berjumlah 60 siswa dijelaskan dalam tabel III.I.berikut:








TABEL 3.1

DISTRIBUSI POPULASI KELAS VIII SMP NEGERI I SEPONTI, 2015 MENURUT KELAS DAN JENIS KELAMIN

No

Kelas
Jumlah

Total
Laki-Laki
Perempuan
1
VIIIA
14
16
30
2
VIIIB
16
14
30

Jumlah
30
30
60
            Sumber : Tata Usaha SMP Negeri I Seponti, Tahun pelajaran 2015
2.    Sampel Penelitian  
Jumlah populasi dalam penelitian ini relatif kecil yaitu kurang dari 100 siswa, maka keseluruhan populasi diambil sebagai sumber data penelitian sehingga penelitian ini bersifat penelitian populasi.
Oleh karena siswa kelas VIII SMP N I Seponti Jaya yang terdiri dari 2 kelas, yaitu kelas VIII A berjumlah 30 orang dan kelas VIII B berjumlah 30 orang. Dengan jumlah peserta didik kelas VIII  yang tidak banyak tersebut menjadi alasan peneliti menjadikan seluruh peserta didik kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri I Seponti Jaya sebagai sumber data atau populasi dalam penelitian. Sehingga yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah seluruh populasi yaitu peserta didik kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri I Seponti. yang berjumlah 60 orang.
C.  Prosedur Penelitian
Untuk mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin akan muncul saat penelitian berlangsung, maka terlebih dahulu disusun prosedur penelitian. Langkah-langkah penelitian tampak dalam gambar III.I berikut ini.

Kelompok Eksperimen
Diskusi Menggunakan Tipe Team Games Tournament (TGT)
Konstitusi yang digunakan dan berlaku di Indonesia


Kelompok Kontrol
Diskusi Menggunakan Bukan Tipe Team Games Tournament (TGT)
Konstitusi yang digunakan dan berlaku di Indonesia


POST TEST
 











Gambar III.I
Langkah-langkah Penelitian

Prosedur penelitian yang akan dilaksanakan saat penelitian adalah sebagai berikut.
1.    Tahap Persiapan
a.    Melakukan observasi ke sekolah mitra penelitian, yaitu Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) I Seponti Jaya . Berdiskusi dengan guru mata pelajaran PPKn kelas VIII tentang bagaimana pelaksanaan penelitian yang akan dilakukan.
b.    Menyiapkan perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS).
c.    Menyiapkan instrument penelitian, seperti membuat soal test yang sesuai dengan materi dan tujuan yang akan yang diajarkan, menyiapkan lembar observasi guru, serta menyiapkan media pembelajaran yang sesuai dengan materi serta RPP yang telah disiapkan. Pemilihan dan penentuan instrumen yang dibuat disesuaikan dengan kurikulum 2013 serta sumber belajar yang digunakan oleh sekolah pada masa sekarang.
d.   Melakukan validitas instrument penelitian.
e.    Mengujicobakan soal pre-test dan post-test pada sekolah lain untuk diuji reliabilitasnya, yaitu di Sekolah Menengah Pertama Negeri III Seponti Jaya .
f.     Menganalisis data hasil uji coba.
g.    Merevisi instrumen penelitian berdasarkan hasil uji coba.
h.    Menentukan jadwal penelitian yang akan dilakukan dan disesuaikan dengan jadwal pelajaran PKn kelas VIII yang ada di Sekolah Menengah Pertama Negeri I Seponti Jaya.
2.    Tahap Pelaksanaan
a.    Memberikan test, kemudian peneliti melaksanakan pembelajaran PKn dengan memberikan perlakuan (model kooperatif tipe Team Games Tournament) di kelas eksperimen dan pembelajaran tanpa diberikan perlakuan di kelas kontrol.
b.    Memberikan post-test yang berupa soal-soal yang telah dipersiapkan oleh peneliti.
c.    Melakukan analisis data, dengan mengolah data yang telah diperoleh dari hasil tes soal yang diberikan kepada objek penelitian, kemudian membuat kesimpulan hasil penelitian dan menyusun laporan.

3.    Tahap Akhir
a.    Mengolah data yang diperoleh dengan uji statistik yang sesuai untuk menjawab hipotesis dan permasalahan penelitian.
b.    Mendeskripsikan dan menganalisis hasil pengolahan data serta menyimpulkan jawaban dari masalah dalam penelitian.
c.    Membuat kesimpulan.

D.  Teknik Dan Alat Pengumpulan Data
1.        Teknik Pengumpul Data
Pengumpulan data merupakan langkah penting dalam suatu penelitian untuk memperoleh data yang diperlukan. Data yang diperoleh haruslah merupakan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Oleh karena itu dipergunakan teknik dan alat pengumpul data yang tepat.“Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.  Selalu ada hubungan antara metode mengumpulkan data dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan,” Moh. Nazir (dalam Arikunto, 2006).
Hadari Nawawi (dalam Purwanto, 2011) mengatakan bahwa ada 6 macam teknik penelitian sebagai alat pengumpul data yaitu :
a)    Teknik observasi langsung
b)   Teknik observasi tidak langsung
c)    Teknik komunikasi langsung
d)   Teknik komunikasi tidak langsung
e)    Teknik studi documenter
f)    Teknik pengukuran

Berdasarkan pendapat di atas, teknik pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi langsung, teknik, teknik studi documenter dan teknik pengukuran .
Berikut akan dijelaskan dari ketiga teknik di atas :
a.    Teknik observasi langsung
Teknik observasi langsung adalah cara untuk mengumpul data yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang tampak pada objek penelitian yang pelaksanaannya langsung pada tempat dimana suatu peristiwa, keadaan atau situasi sedang terjadi menggunakan pedoman dan pencatatan data berupa pedoman observasi.
Berdasarkan pengertian tersebut, observasi merupakan salah satu metode untuk mendapatkan data. Jadi teknik observasi langsung merupakan cara untuk mengumpulkan data yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan langsung yang tampak pada objek penelitian. Teknik observasi langsung dilakukan pada saat guru melaksanakan pembelajaran di kelas saat menyampaikan dan menggunakan metode pembelajaran di kelas.
b.      Teknik Pengukuran
Purwanto (2007:227) “Mengukur adalah kegiatan membandingkan sesuatu yang diukur dengan alat ukurnya”. Pengumpulan data menggunakan alat ukur dimaksudkan agar data dapat diperoleh secara objektif karena penyerahan kewenangan pengukur kepada alat ukur menutup kesempatan peneliti memasukkan subjektivitasnya.
c.       Teknik studi dokumenter
Teknik ini adalah cara mengumpulkan data melalui dokumen-dokumen yang diperlukan dalam melengkapi data yang berhubungan dengan penyelidikan, yaitu nilai ulangan formatif.
Dalam menggunakan salah satu teknik di atas perlu mempertimbangkan beberapa faktor diantaranya tenaga, biaya, waktu, alat, dan validitasnya.
2.      Alat Pengumpul Data
Sesuai dengan teknik pengumpulan data di atas, maka alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.       Panduan observasi
Panduan Observasi dipergunakan dalam teknik observasi langsung, yakni untuk melihat atau mengamati apa yang diperoleh siswa di dalam kelas. Penulis menggunakan pendoman observasi sebagai alat pengumpul data.  Data yang diperoleh melalui observasi ini tidak diolah secara statistik, tetapi dianalisis guna mendukung atau melengkapi data yang diperoleh melalui wawancara.
b.      Tes hasil belajar
Riduwan (dalam Sudjana, 2005) tes sebagai instrument pengumpulan data adalah serangkaian pertanyaan/latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu/kelompok. Menurut Allen Philips (dalam Sri Esti Wuryani Djiwandono, 2006) A test is commonly difined as a tool or instrument of measurement that is used to obtain data about a specific trait or characteristic of an individual or group. ( Test biasanya diartikan sebagai alat atau instrument dari pengukuran yang digunakan untuk memperoleh data tentang suatu karakteristik atau ciri yang spesifik dari individu atau kelompok ).
Sri Esti Wuryani Djiwandono (2006:403) mengatakan “sifat-sifat tes yang baik memiliki ciri-ciri yang terutama meliputi validitas dan reliabilitas”.
Dari pendapat tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1)        Validitas
Validitas menunjukkan pada penyesuaian alat pengukur dengan tujuan yang hendak di ukur. Tes dikatakan memiliki validitas apabila tes itu betul-betul mengukur apa yang hendak diukur.
Validitas terpisah dalam dua bentuk, yaitu validitas logis yang terdiri dari validitas isi (content validity) dan validitas konstruk (construct validity), serta validitas empiris yang terdiri dari validitas kriteria atau dikenal sebagai validitas kesamaan waktu (concurrent validity) dan validitas peramalan (predictive validity).
a)      Validitas isi
Validitas isi menuntut adanya kesesuaian isi antara kemampuan yang ingin diukur dan tes yang digunakan untuk mengukurnya. Kesesuaian itu tercermin pada jenis kemampuan yang dituntut untuk mengerjakan tes, dibandingkan dengan jenis kemampuan yang dijadikan sasaran pengukuran.
2)      Reliabilitas
Reliabel artinya dapat dipercaya. Tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap (ajeg).
Sudjana (2004:173), mengatakan kriteria tes yang baik ada 4 yaitu validitas, reliabilitas, daya beda dan indek kesukaran.
Dari pendapat tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1)        Kesahihan/ Validitas
Sebelum soal tes ini dipakai harus diuji coba dahulu, selanjutnya dilakukan pengujian validitas yang terdiri dari:
Validitas isi dan kontruk, validitas ini dilakukan bertujuan untuk menentukan kesesuaian antara soal dengan materi ajar dengan tujuan yang ingin diukur atau dengan kisi-kisi yang kita buat. Validitas ini dilakukan dengan meminta pertimbangan dari para ahli (pakar) dalam bidang evaluasi atau ahli dalam bidang sedang diuji.
Validitas Prediksi, validitas ini dimaksudkan agar hasil tes mampu memprediksi keberhasilan peserta didik dikemudian hari, misalnya ujian masuk atau tes seleksi.
Validitas Empiris (kriterium), Validitas ini bertujuan untuk menentukan tingkat kehandalan soal adalah validitas bandingan (concurent validiti). Dalam penentuan tingkat validitas butir soal digunakan korelasi produc moment pearson dengan mengkorelasikan antara skor yang didapat siswa pada suatu butir soal dengan skor total yang didapat.
c.       Dokumen-dokumen (Silabus, RPP dan Hasil ulangan harian /hasil tes formatif).
Studi dokumen ini sangat erat kaitannya dengan usaha pembuktian fakta yang diperoleh melalui wawancara.Dokumen artinya setiap bahan tertulis atau tidak tertulis (film.Video dll) yang dapat membuktikan suatu kejadian atau peristiwa sesuai dengan data dan fakta yang ada. Adapun dokumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini diantarnya adalah Silabus, RPP, dan Hasil nilai ulangan harian (formatif).
E.  Analisis Data
Analisis data adalah kegiatan mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dan jenis responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.
Data dalam penelitian ini diperoleh data dari mulai observasi langsung pada obyek penelitian untuk mengungkapkan sejauh mana peningkatan pemahaman siswa. Observasi langsung dilaksanakan pada kondisi awal pembelajaran di dalam kelas dan pada saat diberikan perlakuan.
Tujuan analisis dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh data kepastian apakah terjadi pengaruh  pelaksanaan model kooperatif tipe Team Games Tournament terhadap pemerolehan belajar peserta didik pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dikelas VIII.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Pada akhir pembelajaran dilakukan penilaian terhadap hasil tes yang dicapai oleh peserta didik. Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskriptifkan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Data yang  diperoleh dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh melalui post test untuk menjawab masalah dalam penelitian. Adapun pengolahan data yang sudah diperoleh tersebut, dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Untuk menjawab sub masalah 1 dan 2, yakni menggunakan statistik deskriptif.
Untuk mencari rata-rata skor maupun rata-rata nilai, baik kelas kontrol maupun kelas eksperimen, dapat dicari dengan rumus  rata-rata (mean):
Keterangan:
 rata-rata skor/ nilai yang dicari
 jumlah keseluruhan skor/ nilai
 jumlah sampel/ siswa (kelas kontrol/ eksperimen)
Kriteria nilai rata-rata dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
80 – 100         : Baik Sekali
66 – 79           : Baik
5 – 65             : Cukup
40 – 55           : Kurang
30 – 39           : Gagal
(Suharsimi Arikonto, dalam Febri Susanto, 2013:56)
2)      Menguji normalitas data yang diperoleh dari kelas kontrol dan kelas eksperimen digunakan uji statistic parametric dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a)      Menguji Normalitas distribusi populasi sebagai berikut:
1)      Mencari rata-rata (X)
∑x1   =    skor siswa
n       =    Jumlah siswa
2)      Mencari Standar Deviasi (SD)
3)      Membuat daftar frekuensi observasi dan frekuensi ekspektasi
a.       Menentukan banyaknya kelas (K)
K = 1 + 3,3 log n
b.      Menentukan panjang kelas (P)
R = Rentang (data terbesar – data terkecil)
c.       Menentukan frekuensi observasi (fe)
d.      Menentukan batas kelas (bk)
e.       Menentukan nilai transformasi normal standar dari batas kelas (Z)
f.       Menentukan luas tiap kelas interval (L) dengan menggunakan daftar Z
g.      Menentukan frekuensi ekspaktasi (Fe)
Fe = n x L
4)      Menentukan nilai X2 (Chi Kuadrat)
5)      Menentukan derajat kebebasan (db)
6)      Menentukan nilai X2 (Chi Kuadrat) dari daftar
7)      Menentukan normalitas populasi
Jika X2hitung< X2 Tabel, maka populasi berdistribusi normal
Jika X2hitung ≥ X2 Tabel, maka populasi tidak berdistribusi normal
8)      Jika kedua kelompok berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan mengetes homogenitas variansnya.
Diuji dengan menggunakan
Langkah-langkahnya:
a.       Menghitung varians terbesar dan varians terkecil untuk mencari F hitung
b.      Bandingkan nilai F hitung dengan F table
Dengan rumus db pembilang = n – 1
                                dbpenyebut = n – 1
c.       Kriteria pengujian
Jika: F hitung ≤ F table,  data homogen
Jika: F hitung > F table, data tidak homogen
9)      Jika datanya berdistribusi normal dan datanya homogen maka dilanjutkan dengan uji t, dengan menggunakan rumus uji – t sampel terpisah (Independen):
Keterangan:
t=  nilai uji – t yang dicari.
rata-rata hasil post test kelas eksperimen
rata-rata hasil post test kelas kontrol
standar deviasi kelas eksperimen
standar deviasi kelas kontrol
 n1 = jumlah data kelas eksperimen
 n2 = jumlah data kelas control
3.      Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh model kooperatif tipe Team Game Tournament (TGT) maka digunakan rumus effect size berikut
Keterangan:
ES         =  Efect Size:
Xe          =  Rata-rata hitung kelas eksperimen
Xc          =  Rata-rata hitung kelas kontrol
Sc+e        =  Standar Deviasi kelas kontrol dan kelas eksperimen
Dengan kriteria sebagai berikut:
ES < 0,2            : digolongkan rendah
0,2 ≤ ES < 0,8 :  digolongkan sedang
ES ≥ 0,8            :  digolongkan tinggi
(Sutrisno dalam Yanti Rusmita, 2009:56)


dinamisenakblogspot.com
babiiiskripsi.blogspot.com